CERPEN Melodi Yang Hilang

Hujan baru saja menampakkan dirinya di bumi, Melody terdiam sambil memejamkan matanya di sudut kamarnya. Kenangan-kenangan itu kembali terlintas. Senyumannya. Musik. Janji yang tak ditepati. Dan air mata.
“Masihkah kau ingat denganku? Masihkah kau ingat dengan kenangan
kita? Masihkah kau ingat dengan janji yang pernah kau ucapkan? Aku rindu dengan melodimu”.
Hujan turun bersama memori-memori yang membuat Melody kembali teringat terhadap seseorang. Seseorang yang telah pergi darinya, meninggalkannya tanpa kabar. Fiky, sahabatnya pindah bersama kedua orangtuanya ke luar kota.
Beberapa bulan yang lalu ketika pulang sekolah, Fiky dan Melody jalan-jalan ke taman.
“Melody, impian kamu menjadi seorang apa?” tanya Fiky.
Melody hanya tersenyum sambil memandang langit. Kemudian Fiky mengulangi kembali pertanyaannya.
“Dulu aku pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Tapi kini mimpi itu telah berubah. Kini, impianku adalah menjadi seorang penyanyi yang murah hati.” jawab Melody.
“Hmm.. Kalau impianmu adalah menjadi seorang penyanyi… Maka impianku adalah menjadi seseorang yang dapat mengiringimu bernyanyi.” kata Fiky sambil tersenym menatap Melody.
“Janji?” tanya Melody. “Yaa, aku janji.” balas Fiky.
Setelah menghabiskan waktunya di taman, mereka pun pulang. Dan setelah perjanjian itu, hampir disetiap hari Minggu mereka menghabisan waktunya untuk berlatih di studio musik dekat rumah Melody, Fiky mengiringi suara merdu Melody dengan melodi indah dari gitarnya. Dan saat itulah musik menjadi perbincangan sehari-hari mereka.
Suatu hari dihari Jumat, Fiky mengatakan ke Melody bahwa besok ia tidak masuk sekolah karena ada hal yang harus dia selesaikan, dan dia berjanji untuk bertemu kembali dengan Melody pada hari Minggu di studio tempat mereka biasa latihan.
Ketika hari Minggu tiba, Melody bergegas menuju studio itu dengan rasa senang karena sudah dua minggu mereka tidak latihan bersama. Sesampainya di sana, Fiky belum datang.
Melody tidak memulai latihannya karena ia menunggu kedatangan Fiky, sembari menunggu kedatangannya, Melody memutar musik. Setelah lama menunggu, Fiky tak juga datang. Namun Melody tetap sabar menunggu kedatangannya.
Tiba-tiba pintu studio terbuka, dengan senang Melody melihat ke arah pintu dan berharap yang datang adalah Fiky. Namun yang menampakkan diri bukanlah Fiky,tapi petugas studio yang membawa sepucuk surat untuk Melody.Hujan baru saja menampakkan dirinya di bumi, Melody terdiam sambil memejamkan matanya di sudut kamarnya. Kenangan-kenangan itu kembali terlintas. Senyumannya. Musik. Janji yang tak ditepati. Dan air mata.
“Masihkah kau ingat denganku? Masihkah kau ingat dengan kenangan
kita? Masihkah kau ingat dengan janji yang pernah kau ucapkan? Aku rindu dengan melodimu”.
Hujan turun bersama memori-memori yang membuat Melody kembali teringat terhadap seseorang. Seseorang yang telah pergi darinya, meninggalkannya tanpa kabar. Fiky, sahabatnya pindah bersama kedua orangtuanya ke luar kota.
Beberapa bulan yang lalu ketika pulang sekolah, Fiky dan Melody jalan-jalan ke taman.
“Melody, impian kamu menjadi seorang apa?” tanya Fiky.
Melody hanya tersenyum sambil memandang langit. Kemudian Fiky mengulangi kembali pertanyaannya.
“Dulu aku pernah bermimpi menjadi seorang penulis. Tapi kini mimpi itu telah berubah. Kini, impianku adalah menjadi seorang penyanyi yang murah hati.” jawab Melody.
“Hmm.. Kalau impianmu adalah menjadi seorang penyanyi… Maka impianku adalah menjadi seseorang yang dapat mengiringimu bernyanyi.” kata Fiky sambil tersenym menatap Melody.
“Janji?” tanya Melody. “Yaa, aku janji.” balas Fiky.
Setelah menghabiskan waktunya di taman, mereka pun pulang. Dan setelah perjanjian itu, hampir disetiap hari Minggu mereka menghabisan waktunya untuk berlatih di studio musik dekat rumah Melody, Fiky mengiringi suara merdu Melody dengan melodi indah dari gitarnya. Dan saat itulah musik menjadi perbincangan sehari-hari mereka.
Suatu hari dihari Jumat, Fiky mengatakan ke Melody bahwa besok ia tidak masuk sekolah karena ada hal yang harus dia selesaikan, dan dia berjanji untuk bertemu kembali dengan Melody pada hari Minggu di studio tempat mereka biasa latihan.
Ketika hari Minggu tiba, Melody bergegas menuju studio itu dengan rasa senang karena sudah dua minggu mereka tidak latihan bersama. Sesampainya di sana, Fiky belum datang.
Melody tidak memulai latihannya karena ia menunggu kedatangan Fiky, sembari menunggu kedatangannya, Melody memutar musik. Setelah lama menunggu, Fiky tak juga datang. Namun Melody tetap sabar menunggu kedatangannya.
Tiba-tiba pintu studio terbuka, dengan senang Melody melihat ke arah pintu dan berharap yang datang adalah Fiky. Namun yang menampakkan diri bukanlah Fiky,tapi petugas studio yang membawa sepucuk surat untuk Melody.

“‘Melody… Maafkan kali ini aku tak dapat menemanimu latihan. Mungkin bukan cuma untuk hari ini, namun untuk seterusnya. Maafkan karena aku tak pernah menceritakan hal ini kepadamu. Aku harus pindah ke Jogja bersama kedua orangtuaku.
Melody… Aku harap kau tetap semangat meraih impianmu untuk menjadi seorang penyanyi. Semoga kita dapat bertemu lagi. Meskipun namamu lebih indah dari melodi yang ku mainkan digitarku, aku harap suatu saat aku dapat mengiringimu kembali.’ “

sahabatmu FIKY.

Karena musik yang diputar terlalu keras, Melody tak mengetahui bahwa di luar sedang hujan deras. Ia berlari keluar dari studio, membiarkan hujan membasahinya, membiarkan air matanya menyatu dengan air hujan, mengalir dan terjatuh ke tanah.
Kini, di hari Minggu, studio itu cuma terisi oleh Melody seorang diri, melodi indah yang dimainkan oleh Fiky telah hilang dan tinggal menjadi kenangan yang kadang terdengar dibenak Melody saat ia rindu dengan Fiky.

Based On True Story

Created by : Muftihatur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s