CERPEN cerita sebuah senyuman

Dia bukanlah pengusaha, buka juga ahli waris, apalagi seorang artis dia adalah seorang pegawai biasa di suatu perusahaan, dan inilah kisahnya yang tak pernah berhenti menyerah pada orang di sekitarnya, suatu pagi saat berangkat kerja kepalanya terkena tetesan aliran air dari atap lalu ia melihat sebuah tanaman kering di pinggir jalan, ia pun menggesernya tepat di bawah tetesan air mengalir, ia pun melanjutkan perjalanannya, sebenarnya hanyalah sebuah hal kecil yang dianggap remeh sebagian besar orang tapi tetap tak luput dari perhatian pemuda itu, kemudian ia melihat seorang ibu penjual sayur yang kesulitan mendorong gerobaknya menyebrangi jalanan dekat lampu merah, tanpa aba-aba ia menolong membantu menolongnya, awalnya ibu penjual sayur tampak asing tapi di akhir ia berterima kasih pada pemuda itu, seakan tak henti berbagi rasa pada sesamanya, saat jam istirahat makan siang, pemuda itu mampir di sebuah warteg pinggir jalan langganannya, kemudian ia dihampiri seekor anak kucing, pemuda penuh welas asih itu tanpa perhitungan langsung saja berbagi lauk ikannya pada kucing itu, pedagang warteg itu dibuat geleng-geleng melihat tingkahnya, masih saja ada orang seperti itu, tapi ternyata tak satu orang yang membuatnya geleng-geleng heran kepala, seusai makan didepan warteg ia melihat 2 orang pengemis ibu dan anak yang mengemis dengan tangan menengadah penuh mohon sembari berkata
“tolonglah tuan ini untuk biaya sekolah anak saya” ucap ibu pengemis dengan mata penuh mohon
Tanpa di komando pemuda penuh welas asih ini member isi dompetnya pada pengemis itu, rupanya pedagang alat optic yang memperhatikannya di seberang jalan geleng-geleng heran di buatnya, tapi pemuda itu masih saja menebar senyuman pada orang-orang di sekitarnya, sepulang kerja pun ia selalu menggantungkan setundun pisang ke gagang pintu seorang nenek tua didepan kontrakannya.
Ia melakukan hal yang sama hari ke hari bulan ke bulan, kenapa ia melakukan hal yang sama tiap harinya? Batin nenek tua yang selalu mendapat setundun pisang dari pemuda itu, ia bahkan tau tak mendapat apa-apa dari perbuatannya, kemudian dari kejauhan tampak ibu penjual sayur memanggil pemuda itu seolah hafal akan sifat penolongnya tiap hari
“hei… rupanya disana kamu, ayo sini bantu..”
“hehehe iya bu”

Seakan tak habis sifat welas asih pemuda itu kembali menolong ibu penjual sayur mendorong gerobaknya sembari diiringi canda tawa, mereka makin akrab karena pemuda itu sering menolong ibu penjual sayur itu, sepulang kerja pun ia kembali didatangi kucing untuk meminta sebagian lauk ikannya dan tentu saja pemuda itu masih saja memberinya, begitu juga saat menemui pengemis ibu dan anak padahal hari itu pengeluarannya banyak, bahkan pedagang optic menggelengkan kepala seolah isyarat batinnya pemuda itu tak akan memeberi uang pada pengemis itu, tapi lagi lagi pedagang optic itu salah dan pemuda itu kembali memberikan isi dompetnya, bahkan anak pengemis itu terlihat berkaca-kaca menerima uang dari pemuda itu seolah ingin menolaknya tapu ia tau ia butuh uang itu untuk biaya sekolahnya.
Saat di rumah ia hanya makan nasi dan garam, tapi ia terus berdoa, ia tau ia bahkan terlalu miskin, ia tidak akan menjadi kaya, dia tak akan tampil di tv bak artis, ia masih saja menjadi seorang yang tak dikenal, ia masih saja tak begitu tenar, kemudian suatu hari saat ia hendak memberi sedekah pada pengemis, ia mendapati hanya ibu pengemis yang ada kemudian dari kejauhan ia mendengar seseorang berteriak memanggil ibu, pemuda itu menoleh dan melihat anak pengemis itu kini mengenakan seragam, ia melongo sesaat, lalu tersenyum dalam arti sebenar-benarnya, pedagang optic diseberang jalan kini tak lagi menggelengkan kepalanya tapi melepas kacamatanya sambil melongo, ia kini tau, pemuda itu selama ini bukan tak mendapat apa-apa ia mendapat emosi bahagia dari orang di sekitarnya dan ia menerima arti kekayaan yang sesunguhnya, gaji terbesar yang pernah ada, saat ia menolong mendorong gerobak ibu sayur, saat ia memberi sebagian lauk pada kucing yang akhirnya terus mengikutinya hingga ke rumah, saat ia member setundun pisang ia mendapat pelukan hangat dari tetangga seorang nenek, ia mengisi harinya dengan cinta, iya c.i.n.t.a yang hangat, sesuatu yang tak dapat dibeli oleh kekayaan harta, dan membuat dunianya menjadi jauh lebih indah. Dan bahkan tanaman kering itu telah tumbuh dan berbunga dari tetesan aliran air hujan dari atap.
Lalu dalam hidupmu?
Apakah itu hal yang paling kau inginkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s