PERANAN GENERASI MUDA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

ImageBAB 1

PENDAHULUAN

Dalam konteks sejarah nasional, pemuda telah mencatatkan beberapa goresan penting yang tidak akan mungkin dapat terlupakan bagi bangsa Indonesia. Goresan tersebut terekam di dalam beberapa momentum historis bangsa kita yang mencerminkan betapa besarnya peran pemuda di dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya didalam rangka mendorong bangsa dan negara kita menuju suatu eksistensi yang lebih baik. Beberapa momentum tersebut misalnya:

1.      Momentum Sumpah Pemuda di saat berkumpulnya kelompok-kelompok pemuda yang tergabung di dalam organisasi-organisasi kedaerahan, kesukuan dan agama 71 tahun yang lalu di tahun 1928, menyatakan tekad bersama untuk hidup dalam suatu kesatuan bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia. Dalam momentum ini, pemuda-pemuda Indonesia meletakkan kerangka landasan (embrio) terwujudnya Indonesia sebagai negara bangsa.

2.      Saat-saat menjelang proklamasi negara RI disaat sekelempok pemuda melakukan desakan kepada presiden RI dengan membawa Bung Karno ke Rengas Dengklok–untuk segera memproklamirkan kemerdekaan negara Indonesia tanpa menunggu waktu lebih lama, di saat justeru pemimpin-pemimpin bangsa tengah berpikir untuk menempuh langkah-langkah yang ‘lurus’ melalui jalur diplomatik
dan jalur politik. Akibat dari desakan pemuda tersebut kemudian kita melihat pada tanggal 17 Agustus 1945, dwi tunggal pemimpin bangsa kita pada saat itu memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

3.      Peran pemuda yang tergabung dalam aksi KAMI dan KAPI di dalam melakukan koreksi terhadap perjalanan sejarah bangsa yang telah di anggap melenceng dari komitmen awal perjuangan bangsa Indonesia, melalui TRITURA di tahun 1966, yang kemudian melahirkan generasi-generasi angkatan ’66 yang melanjutkan estafet pembangunan bangsa Indonesia, walaupun kemudian belakangan pada tahun 1990-an akhir dikoreksi kembali oleh pemuda.

Dan yang masih hangat di benak kita, peran pemuda yang terdiri dari mahasiswa di tahun 1998-1999 di dalam mempelopori koreksi terhadap kebekuan konstalasi sosio politik Indonesia yang telah berjalan selama 32 tahun, lewat tuntutan reformasi di segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara yang melahirkan tatanan kebangsaan yang kita lihat sekarang ini.

 

BAB 2

PEMBAHASAN

A.     Pegangan Generasi Muda

       Makna Sumpah Pemuda tetap menjadikan pegangan para generasi muda    Indonesia untuk mempertahankan Indonesia sebagai bangsa yang satu. Namun makna tersebut seakan-akan telah hilang dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

             “Makna berbangsa yakni satu bangsa Indonesia, telah tidak ada lagi. Kini                               yang ada hanyalah sifat egoisme para elite politik,” kata Sekretaris ICMI Sumatera Barat Najmuddin yang dihubungi Pelita via telepon, kemarin.

   Menurut Najmuddin, Sumpah Pemuda akan tetap memiliki relevansi yang sangat besar dalam kondisi bangsa Indonesia saat ini. Tetapi permasalahan yang terjadi saat ini kurang adanya implementasi dari butir-butir Sumpah Pemuda oleh generasi muda maupun pemerintah. Pemuda Indonesia harus mempunyai visi yang jelas kedepan untuk menyiapkan regenerasi bangsa Indonesia yang akan datang.

 

 Menanggapi makna Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang cenderung memudar di dalam diri masyarakat Indonesia, khususnya kalangan pemuda dan pemerintah, dosen Universitas Andalas itu menjelaskan, hal itu terjadi akibat dari ketidakmampuan pemerintah untuk menciptakan formula reformasi yang tengah berjalan. Pemerintah dan pemuda harus mempunyai visi politik yang jelas sebagai bangsa yang bersatu dan berdaulat. Mereka jangan bertindak acuh tak acuh terhadap permasalahan yang terjadi pada Indonesia.

 Dari sisi sosial dan ekonomi, tambah dia, pemerintahan saat ini tidak mempunyai formula dan rancangan yang jelas untuk 10 tahun ke depan dalam menciptakan masyarakat Indonesia yang sejahtera.

 Fenomena saat ini jelas terlihat pemerintah sibuk oleh hal-hal yang membuat sesuatu tidak produktif. Dari sisi politik juga terlihat gambaran politik antagonis, yang selalu mempertahankan ego. Mereka tidak menciptakan suatu kondisi politik negara yang integratif untuk menyatukan bangsa dan menjadikan bangsa Indonesia mempunyai arah dan tujuan yang jelas di masa yang akan datang.

Sementara Ketua HMI Shoim Misbach Haris yang dihubungi terpisah mengatakan refleksi Sumpah Pemuda sering menjadi hal yang klise bagi

generasi muda maupun pemerintah saat ini. Esensi Sumpah Pemuda tentang adanya persatuan, keseragaman, maupun proses menyatu telah menjadi suatu perubahan dan menciptakan konflik vertikal dan horisontal antarrakyat Indonesia.

      “Makna Sumpah Pemuda seakan menjadi kegiatan ritual yang tidak memiliki arti apa-apa dalam berbangsa. Padahal kesadaran yang digali dalam Sumpah Pemuda itu memiliki kesadaran kesatuan, keragaman atas etnis, agama, warna kulit, bangsa Indonesia yang sangat luas,” paparnya.

       Menurut dia, disaat penjajahan melawan Belanda telah usai, maka makna tersebut bertujuan untuk pemerataan seluruh rakyat Indonesia atas kesejahteraan mereka.”Tapi, sering acara seremonial yang diulang setiap tahun menjadi basi. Karena kondisi kehidupan rakyat Indonesia penuh dengan kesenjangan sosial, bahkan rakyat kecil semakin terpinggirkan,” jelasnya. Oleh karena itu agar Sumpah Pemuda menjadi bermakna, maka harus ada generasi muda yang baru yang bebas dari masalah-masalah sosial bangsa Indonesia. Selain itu strategi sosial budaya yang berbasis kesejahteraan rakyat. “Bahkan jika perlu dibuat suatu Sumpah Pemuda yang baru oleh generasi baru.

 

 

 

B.     Peran Serta Generasi Muda dalam Pembangunan.

Disaat kondisi bangsa seperti saat ini peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar, penggerak dan pengawal jalannya reformasi dan pembangunan sangat diharapkan. Dengan organisasi dan jaringannya yang luas, pemuda dan generasi muda dapat memainkan peran yang lebih besar untuk mengawal jalannya reformasi dan pembangunan. Permasalahan yang dihadapi saat ini justru banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi, dislokasi dan terlibat pada kepentingan politik praktis. Seharusnya melalui generasi muda atau pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi berbagai kondisi dan permasalahan yang yang ada. Pemuda atau generasi muda yang mendominasi populasi penduduk Indonesia saat ini mesti mengambil peran sentral dalam berbagai bidang untuk kemajuan antara lain:

1.      Saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan. Pemuda harus meletakkan cita-cita dan masa depan bangsa pada cita cita perjuangannya. Pemuda atau generasi muda yang relatif bersih dari berbagai kepentingan harus menjadi asset yang potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa depan. Saatnya pemuda memimpin perubahan. Pemuda atau generasi muda yang tergabung dalam berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memiliki prasyarat awal untuk memimpin perubahan. Mereka memahami dengan baik kondisi daerahnya dari berbagai sudut pandang. Kemudian proses kaderisasi formal dan informal dalam organisasi serta interaksi kuat dengan berbagai lapisan sosial termasuk dengan elit penguasa akan menjadi pengalaman (experience) dan ilmu berharga untuk mengusung perubahan.

2.      Pemuda harus bersatu dalam kepentingan yang sama (common interest) untuk suatu kemajuan dan perubahan. Tidak ada yang bisa menghalangi perubahan yang diusung oleh kekuatan generasi muda atau pemuda, sepanjang moral dan semangat juang tidak luntur. Namun bersatunya pemuda dalam satu perjuangan bukanlah persoalan mudah. Dibutuhkan syarat minimal agar pemuda dapat berkumpul dalam satu kepentingan. Pertama, syarat dasar moral perjuangan harus terpenuhi, yakni terbebas dari kepentingan pribadi dan perilaku moral kepentingan suatu kelompok. Kedua, kesamaan agenda perjuangan secara umum Ketiga, terlepasnya unsur-unsur primordialisme dalam perjuangan bersama, sesuatu yang sensitive dalam kebersamaan.

3.      Mengembalikan semangat nasionalisme dan patriotisme dikalangan generasi muda atau pemuda akan mengangkat moral perjuangan pemuda atau generasi muda. Nasionalisme adalah kunci integritas suatu negara atau bangsa. Visi reformasi seperti pemberantasan KKN, amandeman konstitusi, otonomi daerah, budaya demokrasi yang wajar dan egaliter seharusnya juga dapat memacu dan memicu semangat pemuda atau generasi muda untuk memulai setting agenda perubahan. 

4.      Menguatkan semangat nasionalisme tanpa harus meninggalkan jatidiri daerah. Semangat kebangsaan diperlukan sebagai identitas dan kebanggaan, sementara jatidiri daerah akan menguatkan komitmen untuk membangun dan mengembangkan daerah. Keduanya diperlukan agar anak bangsa tidak tercerabut dari akar budaya dan sejarahnya. 

5.      Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda dalam melaksanakan agenda-agenda Pembangunan. Energi pemuda yang bersatu cukup untuk mendorong terwujudnya perubahan. Sesuai karakter pemuda yang memiliki kekuatan (fisik), kecerdasan (fikir), dan ketinggian moral, serta kecepatan belajar atas berbagai peristiwa yang dapat mendukung akselerasi perubahan. 

6.      Pemuda menjadi aktor untuk terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya. Tidak dapat dihindari bahwa politik dan ekonomi masih menjadi bidang eksklusif bagi sebagian orang termasuk generasi muda. Pemuda harus menyadari , bahwa sumber daya (resource) negeri ini sebagai aset yang harus dipertahankan, tidak terjebak dalam konspirasi ekonomi kapitalis. 

7.      Secara khusus peranan pemuda di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung seharusnya lebih berorientasi kepada upaya membangun kualitas sumber daya manusia dan upaya menjaga kualitas sumber daya alam Bangka Belitung agar tetap dapat mempunyai daya dukung bagi pembangunan Bangka Belitung dasawarsa kedepan dan untuk persiapan bagi generasi mendatang. Sebagai suatu propinsi yang baru menginjak usia delapan tahun banyak hal yang harus diperbuat, diperjuangkan dan ditingkatkan agar propinsi ini dapat sejajar serta dapat mengejar ketertinggalan dengan propinsi lainnya di Indonesia. Issue aktual tentang kerusakan lingkungan di Bangka Belitung hendaknya menjadi perhatian serius dan utama mengingat eksploitasi terhadap biji timah yang sudah dimulai sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1710, kemudian dilanjutkan oleh bangsa asing kulit putih yaitu bangsa Inggris tahun 1812 dan bangsa Belanda sejak tahun 1814 hingga kemerdekaan, kemudian dilanjutkan eksploitasinya oleh perusahaan Timah milik negara dan sekarang malah dieksploitasi secara bebas dan besar-besaran oleh rakyat tanpa memperhatikan aturan-aturan dan kelestarian lingkungan, akan berakibat pada kerusakan dan kehancuran. Dalam posisi inilah harusnya pemuda atau genersi muda dapat berperan menghentikan kerusakan dan mengajukan alternatif solusi yang cerdas bagi penyelesaiannya dan terutama sekali solusi terbaik bagi penghidupan rakyat pasca timah. Saat ini suara, pemikiran dan tindakan nyata dari generasi muda atau pemuda, mahasiswa, akademisi atau dari golongan elite terpelajar nyaris tak terdengar, sebetulnya banyak kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang perlu dikritisi secara arif.

8.      Pemuda atau generasi muda harus dapat memainkan perannya sebagai kelompok penekan atau pressure group agar kebijakan-kebijakan strategis daerah memang harus betul-betul mengakar bagi kepentingan dan kemashlatan umat.

 

C.     PERAN PEMUDA DALAM MENJAGA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI)

Arip Musthopa

Sejarah lahir dan tumbuh kembang NKRI tidak pernah lepas dari satu nama; “pemuda”. Sejak dari Boedi Oetomo (1908) sebagai Kebangkitan Nasional; Sumpah Pemuda (1928) sebagai kelahiran bangsa Indonesia; Proklamasi Kemerdekaan (1945) sebagai kelahiran negara Indonesia; sampai Gerakan Reformasi (1998) sebagai perjuangan mengembalikan kehormatan bangsa dari otoritarianisme adalah bentuk partisipasi pemuda yang umum dikenal dalam mengawal bangsa ini.
Dalam catatan yang lebih detail, ancaman dari dalam negara seperti peristiwa PKI Madiun para pemuda juga berperan besar dalam pemberantasanya. Menanggapi pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948, wakil ketua PB HMI Ahmad Tirtosudiro –yang ketika itu juga menjabat sebagai Ketua PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia)– membentukCorps Mahasiswa (CM)di bawah komando Hartono, sedang Ahmad Tirtosudiro sendiri menjadi Wakil Komandan untuk membantu pemerintah menumpas pemberontakan PKI Madiun, dengan mengerahkan anggotanya ke gunung-gunung yang di anggap sebagai lokasi persembuyian dari para pemberontak tersebut.

 

D.    Peranan Pemuda di Bidang Politik

Fakta sejarah telah mencatat bahwa peran pemuda sebagai agent of change telah terbukti sebagai salah satu pelopor perubahan penting dalam tatanan masyarakat, bangsa bahkan menjadi sebuah kekuatan utama dalam gerakan revolusi. Gerakan revolusi ini pada akhirnya melahirkan tatanan kehidupan yang baru dalam masyarakat. Realita ini terjadi pada gerakan revolusi Perancis tahun 1968 yang telah melahirkan tatanan politik baru dan gagasan besar seperti feminisme, gerakan anti-nuklir, dan ekologisme ( Robert Gildea, ”French Student Revolt”, dalam Jack A Goldstone (ed), The Encylopedia of Political Revolution, Chicago & London: Fitzroy Dearborn Publisher, 1998 hal.185-186 ). Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah bagian dari sumbangsih peran strategis pemuda. Kontribusi pemuda tersebut berlangsung sejak era kebangkitan nasional, perjuangan lahirnya kemerdekaan, pengawalan transisi rezim orde lama (orla) ke orde baru (orba), penggulingan tirani orde baru menuju orde reformasi sampai akhirnya sumpah pemuda sebagai spirit building dalam proses penyatuan konsep berbangsa, berbahasa dan bertanah air.

Realita peran pemuda di atas harus diakui karena memiliki semangat nasionalisme tinggi dalam memperjuangan tatanan demokrasi bangsa yang berorientasi pada gerakan pro-kerakyatan. Kondisi pemuda Indonesia pada saat itu merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Optimistik gerakan pemuda lahir dari idealisme yang sangat kuat. Selain itu, pemuda memiliki mental kepribadian yang kuat, bersemangat, etos kerja yang tinggi, ulet, kritis, disiplin, inovatif dan bekerja keras dalam menjadikan kehidupan bangsanya menjadi lebih baik. Gerakan pemuda saat itu merupakan gerakan yang terorganisir- teratur melalui organisasi, salah satunya adalah Organisasi Kepemudaan (OKP). Beberapa Organisasi Kepemudaan/Kemahasiswaan yang masih eksis adalah Gerakan Pemuda Ansor (GPM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan remaja Muhammadiyah (IRM) dan beberapa elemen kepemudaan lainnya. Kehadiran OKP pada zaman kemerdekaan merupakan kekuatan starategis yang luar biasa. Orientasi gerakan yang diterapkan beraviliasi pada intelektual-praksis menuju konsep kebangsaan dan good governence. 

Namun, semangat dan arah gerakan OKP-OKP akan keluar dari gerakan idelisme jika pemuda yang ada di dalamnya baik struktural maupun non-struktural telah dirasuki oleh pola pikir praktis. Mereka bukan lagi berkonsep jangka panjang akan tetapi, memiliki konsep ide, gagasan hanya bersifat jangka pendek. Jelas, hal ini hanya akan mengotori semangat nasionalisme pemuda. Padahal, generasi muda adalah generasi penerus bangsa dalam menciptakan country building yang lebih baik, mapan dan berpihak pada rakyat. 

Potensi pola pikir praktis berpeluang besar dimasuki oleh pemuda OKP-OKP, mengingat Bangsa Indonesia akan menghadapi dua agenda besar dalam pesta demokrasi yaitu Pemilihan Umum Calon Legislatif (Caleg) dan Pemilu Presiden. Dua agenda demokrasi Indonesia ini tepatnya pada tanggal 9 April dan 9 Juni 2009 yaitu Pemilu Caleg dan Pemilu Presiden-Cawapres. Dua ruang demokrasi ini sedang menganga dan siap mencengkram ritme ruh gerakan para pemuda OKP. Pemuda akan mudah terjebak jika tidak memilki semangat seperti pemuda zaman kemerdekaan dan sebaliknya akan menjadi ”manusia setengah dewa” jika refleksi semangat pemuda zaman dulu tertanam kuat dalam pola pikir pemuda zaman sekarang. Hal ini bisa saja terjadi karena pemuda zaman sekarang telah mengalami degradasi spirit kebangsaa. 

 

Pola pikir praktis juga disebabkan adanya arus besar globalisasi yang berimbas pada peralihan ruh gerakan pemuda dari agent of change menjadi agent of hedonis. Mereka tidak lagi berpikir tentang bagaimana membangun bangsa dan menciptakan demokrasi pro-kerakyatan melainkan berjiwa konsumerisme dunia hedonis. Inilah virus terbesar yang sedang mejangkiti pemuda. Di media massa (Surat Kabar, Majalah, Radio Televisi) selalu menyajikan berita skandal video mesum, korban obat-obat terlarang, tawuran, dan subjeknya tak lain kebanyakan dari golongan pemuda. Sangat ironis bukan!

Pola pikir praktis hanya memiliki format gerakan jangka pendek (short time) dan kepentingan sesaat . Oleh karena itu, pemuda harus secepatnya menata diri agar semangat nasionalisme tetap menjadi painting of great movement. Apa yang diungkapkan Muhaimin Iskandar menjadi sebuah loncatan strategis, saatnya pemuda (dalam OKP baik struktural maupun non-struktural) menghilangkan tradisi ”politik kerumunan” yaitu politik yang memilki arti gerak politik berbasis isu, ide, momentum dan kepentingan hanya berorientasi jangka pendek (baca: melampaui demokrasi).

Mengubah Pola Pikir Pemuda.

Virus pola pikir praktis yang sangat mudah dan cepat merasuki pemuda menjadi musuh utama terhadap perubahan ruh gerakan OKP. Oleh karena itu, pemuda yang memilki intelektual, berpikir kritis dan berada dalam perasaan manusia ideal (masih bersih dari politik kekuasaan) saatnya mengubah pola pikir. Pemuda harus tetap dalam rel utama sebagai agent of change untuk melahirkan gagasan baru dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang baru pula.

Pengungkapan ide, gagasan yang bersifat jangka pendek dan kepentingan sesaat harus dihilangkan. Berpikirlah ”organisasional” yaitu memilki gerak politik strategis yang bersandar pada perjuangan kepentingan bersama, bersifat jangka panjang dan terlembaga dalam sebuah organsisasi (baca: Melampaui Demokrasi). Kepentingan jangka panjang dimaknai sebagai kepentingan konstituen organisasi, kader, pengurus dan kepentingan bangsa pada umumnya yang menjadi format perjuangan organisasi. Kaitannya dengan pesta demokrasi, pola pikir sangat dibutuhkan dalam menciptakan demokrasi ideal bagi masa depan bangsa Indonesia. Format perjuangan jangka panjang itu dapat terangakai dalam style of movement (baca: merangkai strategis organisasi) sebagai kepentingan bangsa Indonesia seutuhnya. 

Pertama, Gerakan Sosial. Terciptanya masa depan demokrasi Indonesia yang ideal merupakan perjuangan bersama terlebih peran pemuda OKP-OKP. Kesejahteraan hidup masyarakat Indonesia selalu menjadi sorotan utama dalam perjalanan pemerintahan bangsa. Tingginya angka kemiskinan dan banyaknya pengangguran menjadi indikasi gagalnya pemerintah dalam peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketidaksetaraan kehidupan masayarakat antara kaum ekonomi kelas menengah ke bawah dan menengah ke atas harus menjadi perjuangan gerakan sosial. Pemberdayaan masyarakat ekonomi lemah, petani dan pengusaha kecil, akan menciptakan kemandirian dalam basis masyarakat. Pemberdayaan masyarakat ini akan lebih bermanfaat bagi pola gerakan OKP sebagai bentuk perjuangan pemuda terhadap masyarakat kecil.

Kedua, Gerakan Kebudayaan. Mengingat sejarah tumbangnya orde baru ke orde reformasi, maka tugas terpenting dalam proses lahirnya era reformasi itu adalah melanjutkan agenda reformasi. Tugas ini sebagai bentuk tanggung jawab pemuda. Kaitannya dengan Pemilu 2009, pemuda dituntut untuk berani bertanggung jawab dalam mengawal peralihan demokrasi. Peralihan ini menjadi great responsiblity yang merupakan akar budaya gerakan pemuda. Budaya ini akan melahirakan image building terhadap pemuda pada perwujudan pembebas, pluralitas dan pencipta dinamisasi kehidupan berbangsa.

Ketiga, Gerakan Politik Strategis. Pola gerakan ini merupakan kombinasi kedua pola gerakan di atas. Politik strategis memiliki makna yang sangat jauh dengan dengan politik praktis. Politik strategis berorientasi pada kebutuhan jangka panjang sedangkan politik praktis hanyalah berwujud kebutuhan sesaat. Pemuda menjadi adalah icon yang mengubah kehidupan bangsa dalam mencetuskan ide strategis dan advokasi yang berakhir pada perjuangan rakyat kecil. Jiwa sensitivitas terhadap fenomena bangsa yang tidak berpihak pada rakyat harus menjadi ruh utama dalam mengawal kebijakan pemerintah, baik lokal maupun nasional.  

 

Sejarah Sosial Pemuda Indonesia

Bermula dengan lahirnya pergerakan pemuda yang muncul dalam bentuk kedaerahan pada tahun 1915 yaitu Jong Java yang kemudian diikuti oleh Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes (1918), Jong Minahasa (1918), Sekar Roekoen (1919), dan Jong Batak (1925), akhirnya mengilhami para pemuda untuk membentuk satu organisasi pemuda seluruh Indonesia yang nantinya dapat bersatu dalam satu ikatan yaitu sumpah pemuda.

Anggota Jong Java adalah pemuda yang berpendidikan Belanda yang berusaha menjaga kesadaran atas warisan budaya Jawa, sedangkan anggota Jong Sumatranen, Jong Celebes, Jong Minahasa, Sekar Roekoen dan Jong Batak adalah pemuda dari kalangan dengan status sosial tinggi, mereka dikirim untuk memperoleh pendidikan lanjutan di pulau Jawa. Adanya kesamaan antar organisasi berupa; sama-sama berpendidikan Belanda, keterbukaan terhadap norma budaya Barat dan memiliki konsep kemandirian politik dan berbangsa inilah yang menyatukan mereka. Hingga puncaknya terjadi pada tahun 1929 di mana perwakilan dari Jong Java, pemuda Sumatera dan Pemuda Indonesia berkumpul menjadi satu dan mengatasnamakan Indonesia Muda, mereka membubarkan diri secara resmi organisasi yang sebelumnya mereka bentuk.

Petikan kisah di atas merupakan sedikit dari apa yang dipaparkan dalam buku Sumpah Pemuda (Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia) karya Keith Foulcher, buku ini membeberkan secara jujur sejarah baik sulit maupun mudahnya mempersatukan pemuda Indonesia untuk ikut memikirkan Indonesia di masa depan jika telah merdeka.

Perubahan Indonesia selalu tidak terlepas dari peran pemuda, dan bergaungnya sumpah pemuda adalah salah satunya dari perubahan tersebut. Tapi sejarah panjang peran pemuda tersebut surut pasca tumbangnya rezim orde baru yang kemudian lebih dikenal dengan era reformasi. Terbukti dengan peringatan 80 tahun sumpah pemuda dan 10 tahun reformasi, minim bahkan dapat dikatakan tidak ada kegiatan yang berarah pada perubahan yang dilakukan oleh pemuda.

Degradasi peran sosial inilah yang seharusnya dibenahi oleh pemuda Indonesia, tidak hanya didiskusikan tapi juga harus ada pembuktian untuk ke arah yang lebih baik. Kondisi Indonesia yang serba dilematis saat ini seharusnya pemuda harus ikut memikirkannya. Banyak hal yang dapat dikerjakan oleh pemuda sebagai peran memikirkan bangsa, salah satunya adalah kembali kepada intisari isi sumpah pemuda. Bahwa mengakui satu bangsa, mengakui satu tanah air dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia adalah pegangan dan pijakan untuk kembali mempersatukan pemuda.

Fanatisme kedaerahan dan primordialisme adalah tantangan terberat untuk mepersatukan kembali pemuda Indonesia. Tetapi, pemuda Indonesia harus lebih cerdas dan cerdik untuk mengatasinya secara bersama-sama. Memperkenalkan kembali keragaman budaya bangsa setidaknya dapat dicoba untuk ditawarkan kepada pemuda agar kembali memiliki satua rasa kepemilikan atas Indonesia. Sumpah pemuda adalah symbol kebangsaan pada masanya, dan setiap masa selalu dan akan semakin besar tantangannya. Artinya, harus ada hal entah apa namanya yang sesuai dengan zaman sekarang untuk menarik kembali semangat kesatuan pemuda Indonesia.

Menarik mendengarkan apa yang dituturkan oleh Bung Karno pada saat peringatan sumpah pemuda ke-28 pada 28 Oktober 1956 yang diambil dari sumber Harian Rakjat, 1956, “Presiden menjatakan bahwa diperingatinja hari 28 Oktober kali ini adalah suatu opfressing, suatu freshing up, suatu penjegaran bagi semangat persatuan jang akhir-akhir ini terganggu. Presiden menjatakan bahwa sudah selajaknya Sumpah Pemuda diperinagti, bahkan djangan hanja setiap tahun, tetapi tiap-tiap hari, tiap-tiap djam, tiap-tiap menit, tiap-tiap detik. Persiapan ideologis, jaitu Sumpah Pemuda, memerlukan penjelenggaraan praktis itu”

Semangat persatuan pemuda yang kala itu disimbolkan dan hanya dapat disatukan dengan ikon sumpah pemuda selalu diingatkan untuk mengingatnya setiap waktu di setiap tempat. Nah, sudah seharusnya jika saat ini juga ada ikon baru yang sekiranya dapat menjadi suatu pengingat atau ikon kebersamaan untuk mempersatukan kembali pemuda Indonesia yang sudah mulai terkikis dan sudah di ambang perpecahan.
Peringatan sumpah pemuda tahun ini juga unik, diperingati pada usianya yang ke-80 tahun dan sebelumnya disambut dengan peringatan 100 tahun kebangkitan nasional dan 10 tahun reformasi. Ketiga peringatan tersebut yang terangkum dalam tahun 2008 ini selayaknya pula untuk direfleksikan bersama oleh kaum pemuda untuk memulai mengalihkan semangat kedaerahan yang sebelumnya menjadi semangat kebangsaan sebagaimana organisasi daerah mulai Jong Java hingga Jong Batak membubarkan diri dan bersatu dengan naungan Indonesia Muda.

TERIMAKASIH KITA KEPADA GENERASI MUDA

Gerakan moral dan politik yang dilancarkan oleh para mahasiswa di banyak tempat dewasa ini merupakan peristiwa yang berharga dalam rangka konsep strategis “nation building” dan “character building” bangsa kita. Karena, lebih dari 30 tahun universitas-universitas di negeri kita telah dijadikan kuburan kesedaran politik, kuburan
semangat kerakyatan, kuburan patriotisme dan nasionalisme.

Pemerintahan Orde Baru telah mentrapkan garis “depolitisasi” kampus, yang merupakan kesalahan monumental dalam pembinaan jiwa generasi baru. Dengan dalih yang dikarang-karang, universitas telah dijadikan pabrik yang memproduksi kaum intelektual yang tidak-peduli kepada urusan-urusan besar negara dan bangsa, dan yang mempersetankan masalah-masalah penting yang dihadapi rakyat. Berbagai peraturan
tingkat kementerian maupun tingkat universitas telah dibikin sedemikian rupa, sehingga kegiatan-kegiatan yang bersifat politik dalam kampus bisa dibatasi atau dicegah. Orde Baru telah berdosa besar kepada generasi yang sekarang, dan juga kepada generasi yang
akan datang, dengan memaksakan politik depolitisasi kampus, yang sudah berjalan puluhan tahun itu. Sebab, politik depolitisasi kampus ini telah menanamkan ketakutan di kalangan mahasiswa, yang kemudian merupakan bibit juga bagi tumbuhnya “ketakutan nasional” terhadap sistem politik Orde Baru, ketika mereka sudah terjun dalam masyarkat.

Mengingat itu semua, alangkah bahagianya masa depan bangsa Indonesia bahwa para mahasiswa dewasa ini telah bangkit, dan mulai melancarkan perlawanan terhadap berbagai politik salah dan dosa besar yang dilakukan pemerintahan Suharto. Sama-sama sebagai pemilik republik kita, mereka tidak rela bahwa negara kita, yang berpenduduk 202 juta, dikelola secara buruk oleh beberapa ribu jenderal ABRI dan oleh
puluhan ribu pejabat-pejabat tinggi sipil (tokoh-tokoh Glokar di berbagai tingkat). Sebagai calon-calon kader bangsa, hati banyak mahasiswa kita tidak tahan lagi melihat begitu besarnya kerusakan-kerusakan di bidang politik, ekonomi, sosial dan moral,
yang dilakukan oleh para penguasa. Sebagai penerus yang akan ikut bertanggung-jawab atas masa depan negeri kita, mereka ingin ikut membereskan republik kita dari segala kebobrokan, yang telah mendatangkan begitu banyak penderitaan bagi rakyat dewasa ini.

Kita semua patut menyatakan kegembiraan dan perasaan trimakasih kita kepada generasi muda, yang dengan gerakan mereka dewasa ini menunjukkan tekad besar untuk ikut-serta meletakkan dasar-dasar yang lebih sehat bagi penyelenggaraan negara kita di masa depan, dengan melakukan reformasi di berbagai bidang, yang sudah tidak bisa
ditunda-tunda lebih lama lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

  1. 1.    KESIMPULAN

Secara umum dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia generasi muda menduduki posisi penting ketika terjadi perubahan besar di negeri ini.

Dalam mengahadapi tantangan pada masa revormasi seperti sekarang ini perlu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan serta rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda terutama mahasiswa untuk menghadapi era revormasi dan mempersiapkan diri agar mampu berkompetisi dalam menghadapi era globalisasi dan dampak kemajuan pesat di bidang teknologi.karena hal tersebut telah menjadi tuntutan bagi para pemuda Indonesia,apabila pemuda indonesia terus berupaya meningkatkan peranannya di bidang sosial, ekonomi, dan kultural. Sejalan dengan ini, sebagai bagian dari sumber daya manusia (SDM) Indonesia, dituntut untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya menghadapi globalisasi. Ini pula yang harusnya menjadi bagian dari semangat nasionalisme baru kita.

2. SARAN

Kita tampaknya setuju dengan apa yang dikatakan Max Weber bahwa pemuda tak boleh menjadi ekor sejarah, yang gagal menunaikan peran historisnya. Namun demikian, kiranya peranan pemuda ini tidaklah harus selalu mengedepankan peran politik. Alangkah idealnya jika peran politik ini diimbangi pula dan bersinergi dengan peran sosial, ekonomi maupun peran kultural. Melalui sinergi keempat peran inilah, kita yakin peranan pemuda secara keseluruhan akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan eksistensinya dalam kancah kebangsaan  akan semakin mantap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s